Animated Dance Dance Revolution DDR Red

Senin, 06 Mei 2013

Mobilitas Sosial


PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Mobilitas sosial (gerak sosial) atau social mobility adalah suatu gerak dalam struktur  sosial (social structure) yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup sifat-sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya (Soekanto, 2012:219). Semua lapisan masyarakat akan mengalami proses mobilitas sosial dengan cara yang beragam, guna mengawasi perilaku dari invidu itu sendiri. Mobilitas sosial tersebut bergerak ketika seorang individu berpindah dari satu posisi tingkatan ke tingkatan yang lain, baik setara maupun berbeda.
Dalam era sekarang ini, masyarakat berbondong-bondong untuk melakukan mobilitas sosial yang lebih baik dengan anggapan agar hidup mereka bisa lebih bahagia. Namun melakukan mobilitas sosial tidak semudah membalikkan telapak tangan.Mereka yang sudah memiliki mobilitas yang tinggi bahkan menginginkan yang lebih tinggi lagi, karena bagi hampir semua orang dengan memiliki tingkatan mobilitas sosial yang tinggi adalah suatu kebanggaan, Sedangkan bagi masyarakat yang meiliki mobilitas yang rendah dan tidak kunjung berubah, maka akan merasa kecil hati.
Melakukan pergeseran dalam gerak sosial menjadi hal sangat penting bagi suatu kelompok sosial. Selain untuk meningkatkan citra suatu kelompok, juga digunakan untuk memperbaiki tingkat perekonomian dalam kelompok. Mobilitas yang terjadi pada masa lalu merupakan mobilitas sosial yang masih berjalan sesuai dengan keadaan hidup. Berbeda dengan yang sekarang, mobilitas sosial seringkali mengalami rekayasa dari anggota kelompoknya. Penyebab utama dilakukannya rekayasa tersebut karena sulitnya pencapaian mobilitas sosial pada era sekarang ini.


PEMBAHASAN

2.1 Konsep Mobilitas Sosial
            Mobilitas sosial yang berarti berpindahnya suatu kelompok dari kelas tertentu menuju ke kelas yang lain. Perpindahan yang terjadi seringkali menyakitkan baik mental maupun psikis suatu kelompok sosial, karena macam arah mobilitas yang berbeda-beda. Ada yang berpindah dan ada juga yang tetap seperti semula. Mobilitas sosial didalam prakteknya memang sangat sulit, diperlukannya adaptasi pada lingkungan yang baru. Berbeda ketika perpindahan tidak mengharuskan perpindahan posisi lingkungan, hal tersebut akan lebih mudah dilakukan suatu kelompok sosial untuk beradaptasi. Mobilitas sosial ini dapat mencakup kelompok sosial maupun individual.
Kalau kemungkinan mobilitas sosial tidak ada, kelompok bawah berusaha terus untuk meningkatkan statusnya sebagai kelompok (Sarwono,2005:92). Peningkatan status kelompok yang bisa dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan meningkatkan status kelompok keatas, jika hal itu tidak bisa dilakukan maka dengan cara meningkatkan kualitas kelompok tersebut baik dalam segi kesenian dan budaya. Hal tersebut dilakukan agar citra dari kelompok tersebut tidak dipandang jelek oleh kelompok yang lainnya. Walaupun tidak berkembang dalam hal pendidikan, namun setidaknya dalam bidang yang lain masih memiliki keunggulan dibandingkan dengan kelompok sosial yang lain. Tinggi dan rendahnya mobilitas sosial kelompok maupun individu di dalam masyarakat tergantung dengan bagaimana kondisinya. Pada masyarakat yang memiliki kelas sosial terbuka, maka masyarakatnya memiliki tingkat mobilitas yang tinggi. Sebaliknya masyarakat yang memiliki kelas sosial yang tertutup cenderung memiliki tingkat mobilitas yang rendah. Hal itu disebabkan kelas tersebut sulit menerima kemajuan atau modernisasi sehingga kelas sosial tersebut monoton.
2.2 Jenis Mobilitas sosial
            Menurut Soerjono Soekanto (2012:220) tipe mobilitas sosial dibagi menjadi dua macam, yaitu :
a.       Mobilitas Sosial Horizontal
Mobilitas sosial horizontal merupakan peralihan individu atau objek-objek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang sederajat dan tanpa mengubah posisi status sosialnya.
Contohnya : Bu Maria adalah guru sejarah di SMA Negeri 3 Blitar, dikarenakan adanya mutasi guru se-Kota Blitar maka Bu Maria dipindahkan ke SMA Negeri 1 Blitar. Perpindahan yang dialami Bu maria tidak mengubah posisi status sosialnya sebagai guru sejarah.
b.      Mobilitas Sosial Vertikal
Mobilitas sosial vertical merupakan perpindahan individu atau objek sosial dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan lainnya, yang tidak sederajat. Sesuai dengan arahnya, maka terdapat dua jenis mobilitas sosial yang vertical, yaitu :
1.      Mobilitas Sosial Vertikal Naik (Social-Climbing)
Memiliki dua bentuk utama, yaitu:
● masuknya individu-individu yang mempunyai kedudukan rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi
● pembentukan suatu kelompok baru, yang kemudian ditempatkan pada derajat yang lebih tinggi dari kedudukan individu-individu pembentuk kelompok tersebut.
Contohnya : Pak Doni adalah guru sejarah di SMA 2 Bekasi, karena memenuhi syarat maka beliau diangkat menjadi kepala sekolah.
2.      Mobilitas Sosial Vertikal Turun (Social-Sinking)
Memiliki dua bentuk utama, yaitu :
● turunnya kedudukan individu ke kedudukan yang lebih rendah derajatnya, dan
● turunnya derajat sekelompok individu yang dapat berupa disintegrasi kelompok sebagai kesatuan.
Contohnya : Seorang polisi dipecat karena telah melakukan tindakan criminal pembunuhan.


c.       Mobilitas Antargenerasi
Merupakan mobilitas dua generasi atau lebih, yang ditandai dengan perkembangan taraf hidup dalam suatu generasi. Hal yang ditekankan bukan berdasarkan perkembangan keturunan itu sendiri, melainkan pada perpindahan status sosial suatu generasi ke generasi yang lainnya.

d.      Mobilitas Intragenerasi
Mobilitas sosial yang dialami oleh individu atau kelompok orang dalam satu generasi. Contohnya : Deri dan Doni adalah kakak adik yang berkerja pada perusahaan yang sama. Deri sebagai direksi, sedangkan Doni sebagai karyawan biasa
2.3    Determinan Mobilitas Sosial
Determinan atau faktor dalam mobilitas sosial dalam masyarakat umumnya dibagi menjadi dua hal, diantaranya adalah faktor pendukung terjadinya mobilitas sosial dan faktor penghambat terjadinya mobilitas sosial. Faktor pendukung mobilitas sosial menurut (Amin:2011) diantaranya adalah :
A.      Faktor Struktural
Faktor struktural adalah jumlah relatif dari kedudukan tinggi yang bisa dan harus diisi serta kemudahan untuk memperolehnya. Contohnya ketidakseimbangan jumlah lapangan kerja yang tersedia dibandingkan dengan jumlah pelamar kerja. Adapun yang termasuk dalam cakupan faktor structural, yaitu :
● Struktur pekerjaan merupakan tingkatan pekerjaan tiap masyarakat itu berbeda kedudukan sehingga yang berkedudukan rendah akan terpacu untuk menaikkan kedudukan sosial ekonominya mengikuti masyarakat berkedudukan tinggi.
● Perbedaan fertilitas merupakan keadaan setiap masyarakat yang memiliki tingkat kelahiran yang berbeda. Tingkat kelahiran berhubungan erat dengan jumlah jenis pekerjaan yang memiliki kedudukan tinggi atau rendah. Hal ini tentu berpengaruh terhadap proses mobilitas sosial yang akan berlangsung.
● Ekonomi ganda merupakan sistem ekonomi yang terdiri dari ekonomi tradisional dan modern sperti yang ada di negara Eropa maupun Amerika. Bagi masyarakat yang berada dalam tekanan sistem ekonomi ganda seperti ini, mobilitasnya terrgantung pada keberhasilan dalam melakukan pekerjaan di bidang yang diminatinya karena dalam masyarakat modern  kenaikan status sosial sangat dipengaruhi oleh faktor prestasi.
B.   Faktor Individu
Faktor individu adalah kualitas orang perorang baik ditinjau dari segi tingkat pendidikan, penampilan, maupun keterampilan pribadi. Adapun yang termasuk dalam cakupan faktor individu adalah sebagai berikut:
● Perbedaan kemampuan, hal ini disebabkan karena setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda.
● Orientasi sikap terhadap mobilitas, karena setiap individu memiliki cara berbeda dalam meningkatkan mobilitas sosialnya.
● Faktor kemujuran, karena usaha adalah sebagai proses untuk meraih kesuksesan. Tetapi kemujuran tetap berada pada posisi yang menentukan.
C.    Faktor status sosial
Faktor ini diwariskan oleh orang tuanya terhadap anak-anaknya.
D.   Faktor Keadaan Ekonomi
       Masyarakat desa yang melakukan urbanisasi karena akibat himpitan ekonomi di desa. Masyarakat ini kemudian bisa dikatakan sebagai masyarakat yang mengalami mobilitas, karena keadaan ekonomi yang nantinya memaksa individu untuk melakukan mobilitas.

E.    Faktor Situasi Politik
       Kondisi politik suatu negara dapat menjadi penyebab terjadinya mobilitas sosial, karena dengan kondisi politik yang tidak menentu akan sangat berpengaruh terhadap struktur keamanan. Sehingga, memunculkan sebuah keinginan masyarakat untuk pindah ke daerah yang lebih aman.
F.    Faktor Kependudukan (demografi)
       Dengan pertambahan jumlah penduduk yang pesat dapat mengakibatkan sempitnya lahan pemukiman dan mewabahnya kemiskinan, sehingga menuntut masyarakat untuk melakukan transmigrasi.
G.   Faktor Keinginan Melihat Daerah Lain
Apabila keinginan melihat daerah lain itu dikuasai oleh jiwa yang mengembara akan memunculkan niat individu untuk pindah ke daerah lain dan melakukan mobilitas sosial.
Selain faktor pendorong terjadinya mobilitas sosial, ada juga faktor yang menghambat terjadinya mobilitas sosial. Faktor-faktor penghambat tersebut diantaranya:
● Faktor Kemiskinan, merupakan faktor penghambat yang sering terjadi dalam masyarakat. Hal ini disebabkan adanya kendala akan biaya untuk merubah gerak sosialnya. Contohnya, seorang anak yang berhenti sekolah karena tidak mampu membayar SPP. Contoh tersebut mengakibatkan seorang individu tidak dapat memperbaiki status sosial keluarganya.
● Faktor Diskriminasi Kelas, tingkat diskriminasi terhadap masyarakat dari kalangan yang mampu hingga kurang mampu seringkali menjadi faktor utama. Sehingga ada pepatah yang mengatakan “yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin”.
● Faktor Perbedaan Ras dan Agama, latar belakang ras dan agama bisa saja menjadi faktor-faktor penting yang mempengaruhi kemungkinan maupun peluang seseorang untuk melakukan mobilitas vertikal naik.
● Faktor Perbedaan Jenis Kelamin, hal ini disebabkan masyarakat umum beranggapan bahwa laku-laki lebih hebat dibandingkan dengan perempuan. Dengan demikian, gerak perempuan lebih dibatasi dalam perkembangannya.
● Faktor Pengaruh Sosial yang Sangat Kuat, hal ini dikarenakan pergaulan seorang individu. Ketika pergaulan bersama dengan kelompok bermobilitas naik, maka ada keinginan untuk menyamakan derajatnya.
2.4 Dampak Mobilitas Sosial
            Setiap apa yang dilakukan seseorang akan menuai konsekuensi dari apa yang sudah dilakukan. Adapun dampak yang terjadi akibat mobilitas sosial baik dari segi postif maupun negative. Dampak positif menurut (Rafi:2012) yaitu :
1.      Mendorong seseorang agar lebih maju, adanya kesempatan membuat seseorang termotivasi dalam meningkatkan prestasi guna memperbaiki kedudukan status sosialnya.
2.      Mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik, dalam hal ini pendidikan berperan penting di dalamnya.
3.      Meningkatkan integrasi sosial, melakukan pembauran terhadap lingkungan sekitar sehingga mudah dalam berinteraksi.
Dampak negatif akibat terjadinya mobilitas sosial diantaranya yaitu :
1.      Terjadinya konflik, hal ini biasanya disebabkan karena adanya penolakan masyarakat lama terhadap kedatangan orang baru dalam kelompoknya, perebutan terhadap kekuasaan, dan perbedaan dalam menghayati konsep lama terhadap konsep baru.
2.      Timbulnya gangguan psikologi, hal ini biasanya terjadi pada sesorang atau kelompok sosial yang mengalami gerakan mobilitas vertikal turun. Penurunan status sosial daripada status sebelumnya menyebabkan keminderan dalam diri seseorang, rasa malu, serta sulitnya menerima kenyataan menyebabkan gangguan kejiwaan dan sulitnya beradaptasi terhadap lingkungannya yang baru.
2.5         Mobilitas Sosial dalam Masyarakat Multikultural
Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan dan memiliki kepentingan bersama serta memiliki budaya (Haryanto, 2011:1). Maksud dari masyarakat multikultural sendiri adalah masyarakat yang memiliki beraneka budaya. Seperti halnya masyarakat Indonesia memiliki suku, ras, agama yang berbeda-beda. Namun perbedaan tersebut tidak memadamkan semangat kebersamaan diantara satu dengan yang lainnya. Masyarakat dapat dibagi menjadi masyarakat desa dan masyarakat kota :
a.        Masyarakat pedesaan
Merupakan sistem yang berkelompok atas dasar kekeluargaan, hubungan antara masyarakatnya lebih erat dan mendalam dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Sebagian besar masyarakat desa bermata pencaharian petani, pekerjaan selain pertanian hanya pekerjaan sambilan saja karena bila tiba masa panen atau masa menanam padi, pekerjaan-pekerjaan sambilan tersebut ditinggalkan. Pergerakan sosial atau mobilitas sosial dalam masyarakat pedesaan biasanya akan lebih rendah. Hal tersebut dikarenakan sifat masyarakat pedesaan yang lebih tertutup dengan hal-hal yang baru. Mereka beranggapan bahwa cara-cara tradisional masih dapat memberikan jaminan ekonomi dalam keluarga mereka.
b.        Masyarakat Perkotaan
Merupakan sistem berkelompok yang individual, kelompok sosialnya bersifat lebih terbuka dibandingkan dengan masyarakat pedesaan. Sehingga masyarakat kota sebagian besar memiliki tingkat mobilitas sosial yang lebih tinggi. Menurut masyarakat kota mobilitas sangat penting, karena mereka lebih ingin memperbaiki taraf hidupnya serta memiliki mobilitas yang tinggi merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi mereka. Terbukanya akan hal yang baru membuat masyarakat kota lebih mudah menerima wawasan-wawasan yang baru. Tingkat pendidikan menjadi sangat penting untuk nantinya mendapatkan pekerjaan yang layak. Faktor gengsi menjadi salah satu penyebab maraknya mobilitas di kota. Masyarakat di kota berusaha lebih tinggi dibandingkan masyarakat di desa, karena mereka lebih ingin dianggap modern dari masyarakat di desa. Pekerjaan menjadi tolak ukur masyarakat dalam pergaulan, berbeda terbalik dengan kehidupan di kota.



PENUTUP
3.1    Kesimpulan
Perpindahan mobilitas sosial memiliki berbagai macam arah yang berbeda-beda, tergantung dari individu yang melakukan mobilitas sosial. Seorang individu atau kelompok yang gagal melakukan mobilitas sosial, mereka melakukan pengembangan citra kelompoknya melalui bidang lain diantaranya budaya dan olahraga. Dengan demikian kelompok tersebut tidak merasa kecil hati karena memiliki kelebihan di bidang yang lain.
Mobilitas sosial memiliki beberapa jenis pergerakan sosial, diantara pergerakan tersebut yaitu mobilitas sosial horizontal, mobilitas sosial vertikal naik, mobilitas vertikal turun, mobilitas sosial antargenerasi, dan mobilitas sosial intragenerasi. Dari beberapa bentuk mobilitas sosial, memiliki ciri-ciri yang berbeda satu dengan yang lainnya.
Faktor  terjadinya mobilitas sosial dibagi menjadi dua macam. Faktor tersebut ialah faktor pendorong mobilitas sosial dan faktor penghambat mobilitas sosial. Faktor pendorong merupakan faktor yang mendukung atau memfasilitasi hingga proses dari mobilitas sosial berjalan. Sedangkan faktor penghambat merupakan faktor yang menghambat atau faktor yang kontra terhadap berjalannya proses mobilitas sosial. Keduanya memiliki faktor yang bertolak belakang.
Selain faktor mobilitas sosial, terdapat juga dua dampak yang ditimbulkan dari mobilitas sosial. Dampak tersebut ialah dampak positif juga dampak negatif. Dampak positif merupakan akibat dari terjadinya mobilitas sosial yang menguntungkan pihak yang melakukan mobilitas sosial, sedangkan dampak negatif merupakan akibat dari terjadinya mobilitas sosial yang justru merugikan orang yang melakukan mobilitas sosial.
Masyarakat memiliki kebudayaan yang beragam, ada masyarakat Kota dan ada juga masyarakat desa. Keduanya memiliki ciri mobilitas yang berbeda-beda. Masyarakat Kota lebih terbuka menerima hal-hal yang baru, sehingga tingkat mobilitas sosialnya lebih tinggi. Sedangkan masyarakat desa lebih tertutup dibandingkan dengan keadaan masyarakat di kota, hal itu dikarenakan pemikiran masyarakat desa yang masih tradisional.



DAFTAR RUJUKAN
           
Haryanto, D. 2011. Pengantar Sosiologi Dasar. Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya.
Rafi. 2012. Migrasi dan Mobilitas Sosial (Perpindahan), (Online), (file:///C:/Users/user/Documents/mobilitas%20sosial/migrasi-dan-mobilitas-sosial-perpindahan.html), diakses 17 Maret 2013
Sarwono, SW. 2005. Psikologi Sosial Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan. Jakarta: Balai Pustaka.
Soekanto, S. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.


Statifikasi Sosial


PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang
Masyarakat adalah sekelompok individu yang tinggal bersama dalam suatu daerah yang membentuk suatu nilai dan norma sehingga menjadikan suatu kebudayaan dalam sekelompok individu tersebut. Setiap masyarakat pastilah mempunyai stratifikasi sosial (lapisan masyarakat).
Bahkan pada zaman kuno dahulu, filsuf Aristoteles (Yunani) mengatakan di dalam Negara terdapat tiga unsur, yaitu mereka kaya sekali, melarat, dan berada di tengah-tegahnya. Ucapan demikian paling tidak membuktikan bahwa di zaman ity, dan sebelumnya orang telah mengakui adanya lapisan masyarakat yang mempunyai kedudukan bertingkat-tingkat dari bawah ke atas. Seorang sosiolog terkemuka, yaitun Pitirim A Sorokin, pernah mengatakan bahwa sistem lapisan merupakan ciri yang tepat dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur. (Soekanto, S. 2012: 197)


PEMBAHASAN

2.1.  Konsep dan Dimensi Stratifikasi Sosial
1)        Konsep Stratifikasi Sosial
Anda tentunya pernah mendengar istilah S1, S2 dan S3 yang merupakan salah satu jenjang pendidikan perguruan tunggi. nah, kali ini sedikit kami bahas mengenai konsep tersebut.Strata konsep dasarnya adalah lapisan. Stratifikasi sosial adalah pembedaan/pengelompokan penduduk atau masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial secara bertingkat.
Perwujudan pelapisan sosial dalam masyarakat dikenal dengan istilah kelas-kelas sosial yang terdiri atas :
1. Kelas sosial tinggi (upper class),
2. Kelas sosial menengah (middle class), dan
3. Kelas sosial rendah (lower class).
Kelas sosial tinggi meliputi para pejabat atau penguasa dan pengusaha kaya. Kelas sosial menengah meliputi kaum intelektual, seperti dosen, peneliti, mahasiswa, pengusaha kecil, menengah dan pegawai negeri. Kelas sosial rendah merupakan kelompok terbesar dalam masyarakat yang meliputi buruh dan pedagang kecil. Pengelompokan semacam itu terdapat dalam segala bidang kehidupan dimana manusia menjalankan aktivitasnya.
            Dasar-dasar startifikasi sosial dalam masyarakat :
1) Kekayaan
Seseorang yang memiliki kekayaan yang paling banyak akan menempati stratifikasi teratas. Orang yang memiliki harta benda banyak akan lebih dihargai dan dihormati masyarakat daripada orang yang miskin. Kriteria umum yang biasa dipakai untuk menempatkan seseorang pada lapisan ini antara lain adalah bentuk dan perabot rumah yang besar dan mewah, jenis mobil yang digunakan, simpanan dalam bentuk kepemilikan tanah yang luas, dan nilai pembayaran pajak yang umumnya besar. Karena itu masyarakat menempatkan orang-orang tersebut pada lapisan masyarakat atas.


2) Kekuasaan
Kekuasaan berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menetukan kehendaknya terhadap orang lain (yang dikuasai). Kekuasaan didukung oleh lain,struktur seperti kedudukan atau posisi tertentu seseorang dalam masyarakat, kekayaan yang dimiliki, kepandaian, bahkan kelicikan. Seseorang yang memiliki kekuasaan akan menempati strata yang tinggi dalam struktur sosial masyarakat yang bersangkutan.
3)  Keturunan
Dalam masyarakat feodal, anggota masyarakat dari keluarga raja atau kaum bangsawan akan menempati lapisan atas, seperti orang yang bergelar andi di masyarakat Bugis, Raden di masyarakat Jawa, Tengku di masyarakat Aceh, dan sebagainya. Umumnya mereka disebut dengan ungkapan orang berdarah biru.
4)        Pendidikan
Dalam masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan atau pendidikan, orang yang memiliki keahlian atau profesionalitas akan mendapatkan penghargaan yang lebih besar dibanding orang yang tidak memiliki keahlian dan berpendidikan rendah ataupun buta huruf. Mereka yang termasuk golongan ini adalah para peneliti, cendekiawan atau dosen, dokter, hakim, para atlet dan sebagainya. (Sosiotekno, 2010)

2)        Dimensi Stratifikasi Sosial
Ada banyak dimensi yang bisa digunakan untuk mendeskripsikan stratifikasi sosial yang ada dalam suatu kelompok sosial atau komunitas (Svalastoga, 1989), misalnya: dimensi pemilikan kekayaan (diteorikan Koentjaraningrat), sehingga ada strata wong sugih dan wong cilik. Awalnya, di-mensi ini digunakan untuk melakukan identifikasi pada masyarakat Jawa, maka yang disebut pemilikan kekayaan akan ter-fokus pada simbol-simbol ekonomi yang lazim dihargai masyarakat Jawa. Misalnya, pemilikan tanah (rumah, pekarangan atau sawah).
Dimensi distribusi sumber daya diteorikan oleh Gerhard Lensky, di mana ada strata tuan tanah, strata petani bebas, strata pedagang, strata pegawai, strata petani, strata pengrajin, strata penganggur-an, dan strata pengemis. Dimensi ini pada awalnya diberlakukan pada masyarakat pra-industri di mana sistem stratifikasi sosialnya belum sekompleks masyarakat industri.
Ada tujuh dimensi stratifikasi sosial (diteorikan Bernard Baber), yaitu: occupational prestige, authority and power ranking, income or wealth, educational and knowledge, religious and ritual purity, kinship, ethnis group, and local community. Ketujuh dimensi ini, baik secara terpisah maupun bersama-sama, akan bisa membantu dalam mendeskripsikan bagaimana susunan stratifikasi sosial suatu kelompok sosial (komunitas) dan faktor yang menjadi dasar terbentuknya stratifikasi sosial tersebut.
Samuel Huntington mengemukakan bahwa ada dimensi modernisasi untuk menjelaskan stratifikasi sosial, yaitu: strata sosial (baru) yang mampu merealisasi aspirasinya ( the new have) dan strata sosial yang tidak mampu merealisasi aspirasinya atau mereka kalah dalam memperebutkan posisi strata dalam komunitasnya (the looser). Dimensi ini lebih terfokus pada stratifikasi sosial yang pembentukannya didasarkan pada berbagai simbol gaya hidup. Teorisasi Huntington ini dalam beberapa hal berhimpitan dengan teori Leisure Class-nya dari Thorstein Veblen. (De-kill, 2009)

2.2.  Pemahaman Kelas Sosial dan Bentuk Stratifikasi Sosial
            Kelas adalah satu konsep yang mengukur kedudukan sosial manusia dari segi kebendaan dan merupakan satu pembentukan sosial yang tidak dapat dipisahkan daripada institusi ekonomi yang menguruskan hal-hal seperti harta, pendapatan, kewangan, pelaburan, agihan kekayaan, tenaga kerja dan pembahagian buruh dalam masyarakat. Perjuangan kelas merupakan sesuatu yang terjadi sepanjang masa yang didasarkan semata-mata karena penindasan si kaya terhadap si miskin.
            Karl Marx menganggap kelas adalah statifikasi unggul dalam masyarakat manusia dan perkara yang menjelaskan perbedaan sosial. Marx menentang adanya system kelas yang telah membeda-bedakan masyarakat, Marx menginginkan terbentuknya kesamaan yang bermaksud bahawasanya masyarakat tidak harus saling membeda-bedakan diantara status samada kaya, miskin, pandai, tidak pandai dan sebagainya yang ada dalam masyarakat tersebut.
             Marx lebih fokus dan menekankan sebab terjadinya penderitaan masyarakat terhadap pembahagian tahap dan kelas sosial (suffering of the devision of society), sedangkan untuk mengklasifikasi tahap sosial dan membezakan antara manusia dengan manusia memerlukan pemikiran yang logik dan sistematik demi mewujudkan perubahan dalam pembentukan sosial.
                        Sebuah masyarakat yang baik menurut Marx adalah, bebas berkembang dari setiap keinginan setiap individu yang ada, sehingga dapat membentuk sebuah masyarakat yang bebas dari seluruh aspek dalam tahap kemajuan sosial. Setiap individu tidak perlu mengambil peduli berkenaan kelas masing-masing, akan tetapi mereka berusaha untuk mencari jawapan, kenapa manusia mengeksploitasi manusia lainnya dan kenapa perlu ada perbezaan sosial dalam masyarakat.
             Maka, perubahan ini akan membawa pada sebuah revolusi dalam sosial masyarakat. Teori Marx secara umum mengulas tentang sebab dan alasan dari penderitaan golongan kelas bawah dalam sosial, sedangkan cara untuk menghapuskanya adalah dengan sistem classless society.
            Berdasarkan konsep Karl Marx tentang kelas ini, dapatlah dihuraikan bahawa dalam pembetukan teori sosial beliau telah memberi sumbangan yang sangat penting sehingga kini. Kesamarataan yang di war-warkan telah menjadi kenyataan. Seluruh masyarakat kini menentang jika berlakunya system kelas yang akan memebezakan antara satu individu dengan individu yang lain. Masyarakat atau individu yang berkuasa dianggap sama dengan masyarakat yang kurang kuasa atau yang tidak mempunyai kuasa. Orang kaya dengan orang miskin dianggap sama, Cuma yang membandingkan mereka adalah kebendaan.
             Sehingga kini kita memperjuangkan kesamaan dalam kehidupan. Pemilikan dan keinginan yang sama di anggap dapat membantu mengwujudkan system sosial lang serata. Dengan penghapusan system kelas, tidak ada lagi berlaku penindasan dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh yang demikian unit sosial dalam masyarakat perlu sedap dalam mengelakkan berlakunya system kelas, mereka perlu berusaha dan bertanggungjawab menjadikan diri mereka orang yang bebas mempunyai kemajuan dalam hidup tidak kira dalam aspek pemikiran, kebendaan, ekonomi, sosial, budaya, agama dan sebagainya. Karl
Marx melihat masyarakat manusia sebagai sebuah proses perkembangan yang akan menyudahi konflik melalui konflik.
            Apabila pengertian kelas ditinjau secara lebih mendalam, maka akan dapat dijumpai beberapa kriteria yang tradisional, yaitu:
1)     Besar jumlah anggota-anggotanya
2)     Kebudayaan yang sama, yang menentukan hak-hak dan kewajiban warganya
3)     kelanggengan
4)     tanda/lambang-lambang yang merupakan cirri khas
5)     batas-batas yang tegas (bagi kelompok itu, terhadap kelompok lain)
6)     antagonisme terrtentu (Soekanto,S.2012:206)

2) Bentuk-Bentuk Stratifikasi Sosial\
Terbentuknya stratifikasi sosial dalam masyarakat dikarenakan adanya sesuatu yang dihargai dan dianggap bernilai. Pada dasarnya sesuatu yang dihargai selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi. Keadaan ini menjadikan bentuk-bentuk stratifikasi sosial semakin beragam. Selain itu, semakin kompleksnyakehidupan masyarakat semakin kompleks pula bentuk-bentuk stratifikasi yang ada. Secara garis besar bentuk-bentuk stratifikasi sosial sebagai berikut.
Stratifikasi Sosial Berdasarkan Kriteria Ekonomi
Dalam stratifikasi ini dikenal dengan sebutan kelas sosial. Kelas sosial dalam ekonomi didasarkan pada jumlah pemilikan kekayaan atau penghasilan. Secara umum klasifikasi kelas sosial terdiri atas tiga kelompok sebagai berikut.
a)      Kelas sosial atas, yaitu kelompok orang memiliki kekayaan banyak, yang dapat memenuhi segala kebutuhan hidup bahkan secara berlebihan. Golongan kelas ini dapat dilihat dari pakaian yang dikenakan, bentuk rumah, gaya hidup yang dijalankan, dan lain-lain.
b)      Kelas sosial menengah, yaitu kelompok orang berkecukupan yang sudah dapat memenuhi kebutuhan pokok (primer), misalnya sandang, pangan, dan papan. Keadaangolongan kelas ini secara umum tidak akan sama dengan keadaan kelas atas.
c)      Kelas sosial bawah, yaitu kelompok orang miskin yang masih belum dapat memenuhi kebutuhan primer. Golongan kelas bawah biasanya terdiri atas pengangguran, buruh kecil, dan buruh tani.

Stratifikasi Sosial Berdasarkan Kriteria Sosial
Stratifikasi sosial berdasarkan kriteria sosial adalah pembedaan anggota masyarakat ke dalam kelompok tingkatan sosial berdasarkan status sosialnya. Oleh karena itu, anggot amasyarakat yang memiliki kedudukan sosial yang terhormat menempati kelompok lapisan tertinggi. Sebaliknya, anggota masyarakat yang tidak memiliki kedudukan sosial akan menempati pada lapisan lebih rendah. Contoh: seorang tokoh agama atau tokoh masyarakat akan menempati posisi tinggi dalam pelapisan sosial.

Stratifikasi Sosial Berdasarkan Kriteria Politik
Apabila kita berbicara mengenai politik, maka pembicaraan kita berhubungan erat dengan sistem pemerintahan. Dalam stratifikasi sosial, media politik dapat dijadikan salah satu kriteria penggolongan. Orang-orang yang menduduki jabatan di dunia politik atau pemerintahan akan menempati strata tinggi. Mereka dihormati, disegani, bahkan disanjung-sanjung oleh warga masyarakat. Orang-orang yang menduduki jabatan di pemerintahan dianggap memiliki kelas yang lebih tinggi dibandingkan warga biasa. Stratifikasi sosial berdasarkan kriteria politik menjadikan masyarakat terbagi menjadi dua kelompok besar. Kelompok lapisan atas yaitu elite kekuasaan disebut juga kelompok dominan (menguasai) sedangkan kelompok lapisan bawah, yaitu orang atau kelompok masyarakat yang dikuasai disebut massa atau kelompok terdominasi (terkuasai).

Stratifikasi Sosial Berdasarkan Kriteria Pekerjaan
Jenis pekerjaan yang dimiliki oleh seseorang dapat dijadikan sebagai dasar pembedaan dalam masyarakat. Seseorang yang bekerja di kantor dianggap lebih tinggi statusnya daripada bekerja kasar, walaupun mereka mempunyai gaji yang sama. Adapunpenggolongan masyarakat didasarkan pada mata pencaharian atau pekerjaan sebagai berikut.
a)      Elite yaitu orang kaya dan orang yang menempati kedudukan atau pekerjaan yang dinilai tinggi oleh masyarakat.
b)      Profesional yaitu orang yang berijazah dan bergelar kesarjanaan serta orang dari dunia perdagangan yang berhasil.
c)      Semiprofesional mereka adalah para pegawai kantor, pedagang, teknisi berpendidikan menengah, mereka yang tidak berhasil mencapai gelar, para pedagang buku, dan sebagainya.
d)      Tenaga terampil mereka adalah orang-orang yang mempunyai keterampilan teknik mekanik seperti pemotong rambut, pekerja pabrik, sekretaris, dan stenographer
e)      Tenaga tidak terdidik, misalnya pembantu rumah tangga dan tukang kebun.

Stratifikasi Sosial Berdasarkan Kriteria Pendidikan
Antara kelas sosial dan pendidikan saling memengaruhi. Hal ini dikarenakan untuk mencapai pendidikan tinggi diperlukan uang yang cukup banyak. Selain itu, diperlukan juga motivasi, kecerdasan, dan ketekunan. Oleh karena itu, tinggi dan rendahnya pendidikan akan berpengaruh pada jenjang kelas sosial.

Stratifikasi Sosial Berdasarkan Kriteria Budaya Suku Bangsa
Pada dasarnya setiap suku bangsa memiliki stratifikasi sosial yang berbeda-beda. Misalnya pada suku Jawa. Di Jawa terdapat stratifikasi sosial berdasarkan kepemilikan tanah sebagai berikut.
a)      Golongan wong baku (cikal bakal), yaitu orangorang keturunan para pendiri desa. Mereka mempunyai hak pakai atas tanah pertanian dan berkewajiban memikul beban anak keturunan para cikal bakal tersebut. Kewajiban seperti itu disebut dengan gogol atau sikep.
b)      Golongan kuli gandok (lindung), yaitu orang-orang yang mempunyai rumah sendiri, tetapi tidak mempunyai hak pakai atas tanah desa.
c)       Golongan mondok emplok, yaitu orang-orang yang mempunyai rumah sendiri pada tanah pekarangan orang lain.
d)      Golongan rangkepan, yaitu orang-orang yang sudah berumah tangga, tetapi belum mempunyai rumah dan pekarangan sendiri.
e)      Golongan sinoman, yaitu orang-orang muda yang belum menikah dan masih tinggal bersama-sama dengan orang tuanya.
Selain itu, stratifikasi sosial pada masyarakat Jawa didasarkan pula atas pekerjaan atau keturunan, yaitu golongan priayi dan golongan wong cilik. Golongan priayi adalah orang-orang keturunan bangsawan dan para pegawai pemerintah serta kaum cendekiawan yang menempati lapisan atas. Sedangkan golongan wong cilik antara lain para petani, tukang, pedagang kecil, dan buruh yang menempati lapisan kelas bawah. Pada tahun 1960-an, Clifford Geertz seorang pakar antropolog Amerika membagi masyarakat Jawa menjadi tiga kelompok, yaitu santri, abangan, dan priayi. Menurutnya, kaum santri adalah penganut agama Islam yang taat, kaum abangan adalah penganut Islam secaranominal atau menganut Kejawen, sedangkan kaum priayi adalah kaum bangsawan.

2.3.   Perspektif dan Pendekatan Stratifikasi Sosial
          Perspektif stratifikasi sosial berarti pandangan kelas sosial yang akan menjelaskan tentang tatanan di masyarakat. Perspektif ini menganggap bahwa setiap anggota masyarakat itu tidak sama kedudukan sosialnya, tapi punya tingkatan-tingkatan. Soerjono Soekamto di dalam bukunya yang berjudul sosiologi suatu pengantar mengakatan kelas sosial adalah semua orang dan keluarga yang sadar akan kedudukannya di dalam suatu lapisan, sedangkan mereka itu diketahui serta diakui dalam masyarakat.
          Ada beberapa ahli yang berpendapat berbeda tentang kelas sosial tersebut
Kurt. B. Mayer
Istilah kelas sosial hanya dipergunakan untuk lapisan yang berdasarkan atas unsur-unsur ekonomis, sedangkan lapisan yang berdasarkan atas kehormatan kemasyarakatan dinamakan kelompok kedudukan.
Max Weber
Membuat pembedaan atas dasar-dasar ekonomis dan dasar-dasar kedudukan sosial, dan tetap menggunakan istilah kelas bagi semua lapisan. Adanya kelas yang bersifat ekonomis dibaginya lagi dalam kelas yang berstandart atas dasar kepemilikan tanah dan benda-benda, serta kelas yang bergerak dalam bidang ekonomi dengan menggunakan kecakapannya. Adanya golongan yang mendapat kehormatan khusus dari masyarakat dan dinamakannya stand.
Joseph Schumpeter
Terbentunya kelas dalam masyarakat karena diperlukan untuk menyesuaikan masyarakat dengan keperluan-keperluan yang nyata, akan tetapi makna kelas dan gejala-gejala kemasyarakatan lainnya hanya dapat dimengerti dengan benar apabila diketahui riwayat terjadinya.
          Pada beberapa kelas masyarakat dunia, terdapat kelas-kelas yang tegas sekali karena orang-orang dari kelas tersebut memperoleh sejumlah hak dan kewajiban yang dilindungi oleh hukum positif masyarakat yang bersangkutan. Warga masyarakat semacam itu sering mempunyai kesadaran dan konsepsi yang jelas tentang seluruh susunan lapisan dalam masyarakat. Misanya di Inggris ada istilah-istilah tertentu seperti commoners bagi orang biasa serta nobility bagi bangsawan. Sebagian besar warga masyarakat Inggris menyadari bahwa orang-orang nobility berada diatas commoners (sesuai dengan adat istiadat).
          Diantara lapisan atasan dengan bawahan yang terendah, tersapat lapisan yang jumlahnya relatif banyak. Biasanya lapisan atasan tidak hanya memiliki satu macam saja dari apa yang dihargai oleh masyarakat. Akan tetapi, kedudukan yang lebih tinggi itu bersifat kumulatif. Artinya, mereka yang mempunyai banyak uang akan mudah sekali mendapatkan tanah, kekuasaan dan mungkin juga kehormatan. Ukuran atau kriteria yang biasa dipakai untuk menggolong-golongkan anggota-anggota masyarakat kedalam suatu lapisan adalah sebagai berikut.
1)        Ukuran kekayaan
          Barang siapa yang memiliki kayaan paling banyak termasuk dalam lapisan teratas. Kekayaan tersebut misalnya, dapat dilihat dari bentuk rumah yang bersangkutan, mobil pribadi, cara-cara menggunakan pakaian dan masih banyak lainnya.
2)        Ukuran Kekuasaan
          Barang siapa yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar menempati lapisan teratas.


3)        Ukuran Kehormatan
            Ukuran kehormatan mungkin terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan dan/atau kekuasaan. Orang yang paling disegani dan dihormati, mendapat tempat teratas. Ukuran semacam ini, banyak dijumpai pada masyarakat tradisional. Biasanya mereka adalah golongan tua atau yang pernah berjasa.
4)        Ukuran Ilmu Pengetahuan
            Ilmu pengetahuan sebagai ukuran dipakai oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Akan tetapi, ukuran tersebut kadang-kadang menyebabkan terjadinya akibat-akibat negatif karena ternyata bahwa bukan mutu ilmu pengetahuan yang dijadikan ukuran tetapi gelar kesarjanaannya. Sudah tentu hal yang demikian memacu segala macam usaha untuk mendapatkan gelar walaupun tidak halal.
          Ukuran di atas tidaklah bersifat limitatif karena masih ada ukuran-ukuran yang dapat digunakan. Akan tetapi, ukuran-ukuran di atas amat menentukan sebagai dasar timbulnya sistem dalam lapisan masyarakat tertentu.
          Di dalam suatu masyarakat pelapisan sosial mempunyai sifat yakni bersifat tertutup (closed sicial stratification), terbuka (open social stratification)stratifikasi yang bersifat campuran. Sistem lapisan yang bersifat tertutup membatasi kemungkinan berpindahnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan lain, baik yang merupakan gerak yang ke atas maupun gerak yang ke bawah. Di dalam sistem masyarakat yang demikian, satu-satunya cara untuk menjadi anggota suatu lapisan dalam masyarakat adalah kelahiran. Sebaliknya di dalam sistem terbuka, setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kecakapan sendiri utuk naik lapisan atau bagi yang mereka tidak beruntung jatuh dari lapisan atas ke lapisan bawah. Pada umumnya sistem terbuka ini memberi perangsang yang lebih besar kepada setiap anggota masyarakat untuk menjadikan landasan pembangunan masyarakat dari pada yang tertutup. Pada stratifikasi yang bersifat campuran, ada salah satu faktor yang membuat seseorang tidak bisah pindah dari lapisan satu ke lapisan lainnya. Akan tetapi ada salah satu faktor yang membuat sseseorang dapat berpindah dari lapisan satu k lapisan lainnya asalkan seseorang tersebut memenuhi syarat untuk pindah tersebut
          Sistem pelapisan yang tertutup, dalam batas-batas tertentu, dijumpai pada masyarakat Bali. Menurut kitab-kitab suci orang Bali, masyarakat terbagi dalam empat lapisan, yaitu Brahmana, Kesatria, Vesia, dan Sudra. Ketiga lapisan pertama biasa disebut triwangsa, sedangkan lapisan terakhir disebut jaba yang merupakan lapisan dengan jumlah warga terbanyak
          Sistem pelapisan terbuka biasanya dijumpai pada masyarakat perkotaan. Menurut perekonomian masyarakat perkotaan, masyarakat terbagi menjadi tiga lapisan, yaitu lapisan atas(konglomerat), lapisan menengah, lapisan bawah(miskin). Apabila seseorang mempunyai banyak harta kekayaan dapat dipastikan orang tersebut bisa mesuk pada lapisan masyarakat atas(konglomerat) meskipun dari lapisan bawah(miskin). Akan tetapi, jika seseorang tidak mempunyai harta kekayaan yang berlebih maka dapat di pastikan orang tersebut masuk pada lapisan bawah meskipun dari lapisan atas(konglomerat).
          Macam pendekatan pada Stratifikasi Sosial
1)        Pendekatan Fungsional
Pelopor pendekatan fungsionalis adalah Kingsley Davis dan Wilbert Moore. Menurut kedua pakar ini stratifikasi dibutuhkan demi kelangsungan hidup masyarakat yang membutuhkan pelbagai macam jenis  pekerjaan.. Tanpa adanya stratifikasi sosial, masyarakat tidak akan terangsang untuk menekuni pekerjaan-pekerjaan sulit atau pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan proses belajar yang lama dan mahal.
Disini tercakup  pengertian bahwa pelapisan sosial itu  perlu ada agar masyarakat berfungsi, bahwa berbagai lapisan dalam  masyarakat bergerak bersama untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat dan bahwa sistem yang ada, paling tidak secara diam-diam memang telah disetujui oleh para anggota masyarakat.
Tujuan pelapisan sosial : dalam rangka penataan masyarakat, dimana setiap masyarakat harus menempatkan individu-individu pada tempat-tempat tertentu dalam struktur sosial dan mendorong mereka untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai akibat penempatan tersebut. Dengan demikian pelapisan sosial berfungsi untuk menempatkan individu-individu tersebut dan kedua mendorong agar mereka melaksanakan kewajibannya.
2)        Pendekatan Konflik
Pendekatan konflik memiliki asumsi yang berhadapan secara diametral dengan pendekatan fungsional. Dengan dipelopori oleh Karl Marx, pendekatan konflik berpandangan bahwa bukan kegunaan fungsional yang menciptakan stratifikasi sosial, melainkan dominasi kekuasaan. Artinya menurut pendekatan konflik, adanya pelapisan sosial bukan dipandang sebagai hasil konsensus, tetapi lebih dikarenakan anggota masyarakat terpaksa harus menerima adanya 
perbedaan itu sebab mereka tidak memiliki kemampuan untuk menentangnya dan dasar pembentukannya merupakan penghisapan suatu kelas oleh kelas lain yang lebih tinggi.
Bagi penganut pendekatan konflik, pemberian kesempatan yang tidak sama dan semua bentuk diskriminasi dinilai menghambat orang dari strata rendah untuk mengembangkan bakat dan potensi mereka semaksimal mungkin.
            Selain yang disebutkan diatas juga terdapat pendekatan stratifikasi sosial lainnya
1)        Pendekatan Objektif
Artinya, usaha untuk memilah-milah masyarakat ke dalam beberapa lapisan dilakukan menurut ukuran-ukuran yang objektif berupa variabel yang mudah diukur secara kuantitatif. ( katagori statistik )
2)        Pendekatan Subjektif
Artinya, munculnya pelapisan sosial dalam masyarakat tidak diukur dengan kriteria-kriteria yang objektif, melainkan dipilih menurut kesadaran subjektif warga masyarakat itu sendiri. ( katagori sosial ).
3)        Pendekatan Reputasional
Artinya, pelapisan sosial disusun dengan cara subjek penelitian diminta menilai status orang lain dengan jalan menempatkan orang lain tersebut tersebut ke dalam skala tertentu. (Sosiologi-materi, 2011)




PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Konsep Stratifikasi sosial adalah pembedaan/pengelompokan penduduk atau    masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial secara bertingkat.  Terdapat banyak dimensi yang bisa digunakan untuk mendeskripsikan stratifikasi sosial yang ada dalam suatu kelompok sosial atau komunitas, diantarnya dimensi kepemilikan kekayaan dan dimensi distribusi sumber daya.
Konsep kelas sosial adalah satu konsep yang mengukur kedudukan sosial manusia dari segi kebendaan dan merupakan satu pembentukan sosial yang tidak dapat dipisahkan daripada institusi ekonomi yang menguruskan hal-hal seperti harta, pendapatan, kewangan, pelaburan, tagihan kekayaan. Dalam sebuah masyarak terdapat bentuk-bentuk stratifikasi sosial, diantarnya yaitu kriteria pekerjaan, kriteria budaya suku bangsa, kriteria pendidikan, dan kriteria politik.
perspektif stratifikasi sosial berarti pandangan kelas sosial yang akan menjelaskan tentang tatanan di masyarakat.
 perspektif ini menganggap bahwa setiap anggota masyarakat itu tidak sama kedudukan sosialnya, tapi punya tingkatan-tingkatan. macam pendekatan pada stratifikasi sosial dalam masyarakat yaitu, pendekatan fungsional, pendekatan konflik, pendekatan objektif, pendekatan subjektif, pendekatan reputasional.

.






DAFTAR RUJUKAN

Soekanto, S. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta: PT.RajaGrafindo